Sabtu, May 05, 2007

Kunjunganku ke Puttaparti, Andhra Pradesh, India (1)

Ini berawal dari cita-citaku ketika aku masih duduk di bangku SD. Kedua orang tuaku telah mendahuluiku mengunjungi tempat itu. Sejak saat itu, aku punya cita-cita, kapan aku mampu memiliki uang yang cukup untuk pergi ke sana, aku akan berangkat. Di sanalah sebuah tempat di mana berdiam seorang Maha Guru (Sat Guru) yang telah mengajariku arti kasih yang universal. Sathya (Kebenaran), Dharma (Kebajikan), Shanti (Kedamaian), Prema (Kasih Sayang) dan Ahimsa (Tanpa Kekerasan) ada di sana. Sungguh mengagumkan.

Awal cerita, aku beserta rombongan berangkat meninggalkan Indonesia tanggal 9 Februari 2007 dengan Malaysia Airlines menuju Bangalore dengan sebelumnya transit di Kuala Lumpur.  Di Kuala Lumpur kami harus menunggu sekitar 4 jam untuk keberangkatan berikutnya menuju Bangalore. Waktu 4 jam itu kami manfaatkan untuk berbagi cerita bersama sebagai persiapan bagi siapa-siapa saja yang belum pernah mengunjungi Puttaparti. Pamanku yang telah delapan kali mengunjungi tempat itu lebih banyak diam dengan sesekali bercerita kepadaku tentang rutinitas yang biasa dijalani di sana.

Keesokan harinya, dini hari tanggal 10 Februari 2007 kami menginjakkan kaki di Bangalore. Oleh salah satu owner taxi yang oleh tour leader kami telah dipersiapkan sebelumnya menjamu kami di salah satu restaurant di dekat Bangalore Airport. Karena hari masih gelap dan masih banyak diantara kami yang belum puas menghabiskan sisa tidur, menjadikan restaurant itu sebagai tempat untuk tidur-tidur ayam sambil sesekali minum teh ala India yang berwarna merah dan sekilas kalo dipandang mirip seperti air dicampur bata merah yang telah dihaluskan.

Akhirnya sekitar jam 4, kami melanjutkan perjalanan dari Bangalore menuju Puttaparti (Prasanti Nilayam) yang menjadi tujuan kami. Perjalanan itu menghabiskan waktu kira-kira 3.5 jam. Belum lagi Taxi yang kami tumpangi mengalami pecah ban. Memang itu menghambat kami untuk mengikuti kegiatan Darshan pagi. Tapi kami pun dibuat sadar bahwa inilah latihan kesabaran yang pertama. Bahwa dalam kegiatan apapun sangat dibutuhkan kesabaran, bahkan dalam kegiatan yang paling suci pun kesabaran tidak kalah pentingnya dengan kewajiban kita di kegiatan suci itu.

Bersambung ..

 

Posted by Ananta at 14:38:11 | Permanent Link | Comments (1) |

Lampaui Kegelisahan dengan Menemukan Jati Diri !

Arjuna: Bagaimana Krishna, bagaimana mendengarkan suara hati?

Krishna: Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas suara hatimu – itulah Pencerahan! Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka. Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.

Krishna: Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang karena memperoleh sesuatu; tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya. Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan. Pengendalian Diri yang sampurna membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar. Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

Krishna: Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul rasa kecewa, amarah. Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.

Krishna: Seorang bijak yang tercerahkan terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia, dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri. Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati.

Krishna: Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup. Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya, ia menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa.

Posted by Ananta at 13:22:20 | Permanent Link | Comments (0) |