Kunjunganku ke Puttaparti, Andhra Pradesh, India (1)
Ini berawal dari cita-citaku ketika aku masih duduk di bangku SD. Kedua orang tuaku telah mendahuluiku mengunjungi tempat itu. Sejak saat itu, aku punya cita-cita, kapan aku mampu memiliki uang yang cukup untuk pergi ke sana, aku akan berangkat. Di sanalah sebuah tempat di mana berdiam seorang Maha Guru (Sat Guru) yang telah mengajariku arti kasih yang universal. Sathya (Kebenaran), Dharma (Kebajikan), Shanti (Kedamaian), Prema (Kasih Sayang) dan Ahimsa (Tanpa Kekerasan) ada di sana. Sungguh mengagumkan.
Awal cerita, aku beserta rombongan berangkat meninggalkan Indonesia tanggal 9 Februari 2007 dengan Malaysia Airlines menuju Bangalore dengan sebelumnya transit di Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur kami harus menunggu sekitar 4 jam untuk keberangkatan berikutnya menuju Bangalore. Waktu 4 jam itu kami manfaatkan untuk berbagi cerita bersama sebagai persiapan bagi siapa-siapa saja yang belum pernah mengunjungi Puttaparti. Pamanku yang telah delapan kali mengunjungi tempat itu lebih banyak diam dengan sesekali bercerita kepadaku tentang rutinitas yang biasa dijalani di sana.
Keesokan harinya, dini hari tanggal 10 Februari 2007 kami menginjakkan kaki di Bangalore. Oleh salah satu owner taxi yang oleh tour leader kami telah dipersiapkan sebelumnya menjamu kami di salah satu restaurant di dekat Bangalore Airport. Karena hari masih gelap dan masih banyak diantara kami yang belum puas menghabiskan sisa tidur, menjadikan restaurant itu sebagai tempat untuk tidur-tidur ayam sambil sesekali minum teh ala India yang berwarna merah dan sekilas kalo dipandang mirip seperti air dicampur bata merah yang telah dihaluskan.
Akhirnya sekitar jam 4, kami melanjutkan perjalanan dari Bangalore menuju Puttaparti (Prasanti Nilayam) yang menjadi tujuan kami. Perjalanan itu menghabiskan waktu kira-kira 3.5 jam. Belum lagi Taxi yang kami tumpangi mengalami pecah ban. Memang itu menghambat kami untuk mengikuti kegiatan Darshan pagi. Tapi kami pun dibuat sadar bahwa inilah latihan kesabaran yang pertama. Bahwa dalam kegiatan apapun sangat dibutuhkan kesabaran, bahkan dalam kegiatan yang paling suci pun kesabaran tidak kalah pentingnya dengan kewajiban kita di kegiatan suci itu.
Bersambung ..
